Rabu, 09 Maret 2016

Senandung Kala Rindu





         Ada begitu banyak senandung yang menceritakan sebuah kisah yang mungkin terjadi dalam hidup. Juga ada saat di mana Rindu itu menghampiri, tapi aku hanya mendengarkan sebuah lagu, menatap betapa indahnya langit malam ini dan yah, itulah satu-satunya hal yang mungkin masih menghubungkan kita.
“Oh iya, terima kasih saran bukunya kemarin. Bukunya cukup menarik”. ungkapku pada seorang pria yang kukenal di salah satu fanpage para pecinta buku.
Kupikir saat itu akan menjadi chat terakhirku dengannya tapi ternyata aku salah, dan selalu saja ada awal dari banyaknya jenis hubungan.


“Aaghh,, sepertinya kali ini aku suka sama  orang yang salah lagi.. Tuhan bisakah lain kali aku tidak suka sama orang yang tidak bisa kumiliki?” Curhatku pada salah satu akun sosmed yang kumiliki. 
Yah, Tak bisa kupungkiri sepertinya saat itu tepatnya setahun yang lalu aku masih dalam keadaan di mana aku harus selalu meluapkan apa yang aku rasakan tanpa melihat kondisi disekitarku.
Beberapa menit saat postingan itu terkirim, muncul chat dari seseorang
“Sepertinya ada yang lagi galau nih”
         Ternyata pria yang waktu itu sarankan buku untukku cukup peduli dengan updatetan ini.   Tentu saja terjadi percakapan dari sapaan yang singkat itu dan tidak kusangka dia bisa memberi saran layaknya pria dewasa walau aku sempat terkejut saat tahu jarak usia yang cukup jauh.  
“hmm orang ini cukup enak juga diajak ngobrol” pikirku. 
       Tak pernah terlintas aku akan menyukainya karena selain jarak, dia juga telah memiliki seseorang disampingnya. Kami sepakat untuk menjadi teman curhat, lagipula kami tak saling mengenal jadi tidak perlu malu untuk menceritakan apapun.

Seminggu kemudian…

“Jadi begini yah rasanya diputusin, rasanya nyesek yah” sepertinya sii teman sedang mengalami masalah. Tak perlu berpikir dua kali untuk mengambil peran sebagai seseorang yang harus menghibur temannya yang sedang sakit hati.
       Entah sejak kapan aku menjadi semakin nyaman chat dengannya. Apakah sejak menjadi temannya di sosmed, saat dia mulai peduli dengan masalahku, sejak kami mulai memutuskan untuk saling bertukar pikiran atau sejak aku tahu dia tidak punya lagi seseorang disampingnya?.
      Perlahan-lahan namun aku berharap itu bukan sesuatu yang pasti, sepertinya aku mulai mengharapkan hubungan yang lebih dari teman, jenis hubungan yang sejak awal telah kami tetapkan.
“Tidak, tak boleh... Tak ada satu hal pun yang bisa membuat hubungan ini lebih dari itu.”  Teriakku dalam hati, berusaha untuk menetapkan hal itu sebagai sesuatu yang sudah seharusnya.
         Tapi sepertinya bukan hanya aku yang merasa demikian, dari obrolan sederhana seolah becanda dia yang kuharapkan hanya sebatas teman bagiku bagai mimpi ternyata merasakan hal yang sama.
“Ini hanya mimpi, hal ini tidaklah nyata.” Kutetapkan hal itu berulang kali meski aku tahu perasaan ini bukanlah sebatas mimpi. 
         Bodohnya aku yang mengulangi kesalahan yang sama, menyukai seseorang yang tak mungkin kumiliki. Kutertawakan diriku berharap segera terbangun dan perasaan ini menghilang bersama mimpi itu. Tapi,, ahhh sepertinya aku masih menolak untuk terbangun dari mimpi indah yang tak mungkin jadi nyata ini. Sedikit lagi, sesaat saja, aku  masih ingin membayangkan senyumnya dan berharap dapat segera bertemu dengannya.
“Apa yang harus kulakukan?” aku ingin menanyakannya pada teman atau siapapun tapi harus mulai dari mana, kuberitahu pun belum tentu mereka mengerti.
“kisahmu ini kayak film drama saja , dan anggap saja kau sedang memainkan peran dalam cerita itu Khii. Haha.. ” Ucap Kikan teman yang kukenal sejak kuliah yang saat ini sedang duduk di sampingku menikmati cemilan yang dia beli saat memutuskan untuk menginap di rumahku karena cuti yang dia ambil dari tempat kerjanya.
“Tapi kita tidak sedang dalam film itu, kembali ke dunia nyata, sulit untuk membuat kisahmu itu jadi nyata lalu happy ending.” Tambahnya.
         Seperti dugaanku keadaan ini akan sulit untuk dimengerti, perbedaan usia dan jarak sepertinya menjadi hal yang sangat menentukan seseorang bisa bersama.
“Baiklah, akan kuakhiri.“ Lagi-lagi aku berusaha untuk meyakinkan diriku.
        Aku ingin, ingin berusaha untuk mengakhiri tapi tak tahu bagaimana untuk memulai, memulai untuk mengakhiri sesuatu. Kali ini, Tuhan, bisakah kau membantuku?
Ternyata tak butuh waktu lama permintaan itu menjadi nyata.
 “kau ingin mulai menyukai seseorang, Bukankah itu bagus?”. Tuhan, aku berharap bisa benar-benar bahagia saat menulis balasan chatnya saat itu. Bukankah memang itu yang kuharapkan.
        Kubiarkan dia pergi, dan memutuskan untuk menghapus segala tentangnya walau dia berusaha datang untuk meminta maaf karena telah memutuskan untuk menyerah.
“Kau meminta maaf untuk apa? Tak ada yang salah kan, kita juga bukan siapa-siapa”. Jawabku berharap bisa menenangkannya.
      Aku mohon untuk tak muncul lagi setidaknya biarkan aku untuk bersikap egois kali ini.  Jangan memintaku untuk tetap berada disampingmu
“Tetap menjadi temanmu yang berharga?” Ayolah kita sama-sama tahu sejak awal seandainya kita bertemu dengan keadaan yang berbeda, kita tidak akan terjebak dalam dunia mimpi.
“Apakah aku baik-baik saja?” tolonglah jangan menanyakan keadaanku saat ini.
     Aku juga bingung bagaimana harus bersikap saat kita harus melepaskan seseorang yang sebenarnya ingin kita miliki. Kau benar, tidak ada yang bisa diperjuangkan yang ada hanyalah kita yang membuat keadaan semakin rumit.

“Yap inilah yang terbaik..!!”. Kuharap itu bisa menjadi kata- kata penutup yang baik dari obrolan panjang kita malam itu.
      Sakit, tapi inilah saatnya, saat di mana untuk mengakhiri mimpi itu dan seperti yang biasa dilakukan, bermimpi, terbangun, lalu memulai untuk mencari hal baru yang tidak hanya sebatas mimpi. 

Setahun kemudian
       Ternyata melupakan bukanlah masalah waktu. Apakah setahun itu masih termasuk sebentar untuk berusaha melupakan?
       Apa kabar dengan perasaanku?
        Bohong, jika mengatakan tak lagi mengingatnya. Tapi setidaknya tak ada lagi rasa menyesakkan yang sering menggangu seperti dulu.
     Tak ingin menyalahkan siapapun, tapi bolehkah aq mengingat obrolan kita saat tiba-tiba rindu datang menyapa?
      Selalu ada yang menggantikan apa yang telah pergi. Aku ingin meyakini hal itu. Lalu, apa yang telah menggantikanmu?  Belum ada, atau harus kujawab tidak ada yang bisa? Kutertawakan diriku karena lamunannya yang konyol. Bersama dengan lamunan yang konyol itu terdengar sebuah lagu, lagu yang dulu begitu indah namun kemudian menyakitkan. Tapi kini tak lagi kurasakan hal seperti dulu. Lagu ini telah kuanggap tanpa alamat. Hanya sekedar mendengarkan dan biarkan pikiranku membayangkan hal indah yang kuharapkan terjadi karena aku tak ingin kembali.
      Tenang saja, aku yang saat ini telah menemukan scenario dan peran yang ingin dijalaninya. Jika ada yang bisa menggantikannya yang telah pergi, mungkin itu adalah pengalaman dan kedewasaan?..


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

New Post