Minggu, 30 November 2014

BRIGHT- Kirai demo Suki Aishiteru





Kirai, kirai, kirai, kimi no koto nanka..
Demo suki, suki, suki dakara koko ga itai you.....

Kyaaa,,, lagunya kena banget di sini nih..
gak heran bisa masuk daftar playlist Jpop aku.
Padahal awal dapet lagunya cuma dari sekedar iseng-iseng cari lagu-lagu Jpop yang bagus aja..





gambar by: jpopasia.com

The Best song of "supercell"

     
Kalau dipostingan sebelumnya aku ngebahas tentang EGOIST, maka dipostingan kali ini aku mau ngebahas tentang lagu-lagunya supercell yang aku suka. Gak kayak EGOIST, jumlah lagu supercell yang aku suka lebih banyak jadi pusing deh milih beberapa. Pengen nulis semuanya tapi nanti kebanyakan.
        Supercell sendiri udah dua kali ganti vokalis. Vokalis pertama itu Yanagi Nagi, walaupun udah gak ngisi vokal untuk supercell tapi kalau diperhatiin genre musik Yanagi Nagi gak jauh beda sama lagu-lagunya supercell. Mungkin itu juga sebabnya banyak laguYanagi Nagi yang aku suka. Sekarang vokal untuk supercell diisi oleh Koeda yang suaranya cute banget.
Yosh tanpa panjang kali lebar lagi, ini dia lagu-lagu supercell yang buat aku jatuh cinta, mungkin bakalan aku pisahin mana yang vokalnya diisi oleh Yanagi Nagi dan Koeda:
Kalau yang vokalnya diisi oleh Yanagi Nagi lagu yang aku suka yang di bawah ini:
  1. Utakata Hanabi
  2. Kimi no Shiranai Monogatari
  3. Perfect Days
  4. Hero
  5. Sayonara Memories
  6. One Day
Kalau yang vokalnya diisi oleh Koeda lagu yang aku suka yang ini nih:
  1. Gin'iro Hikouzen
  2. The Bravery
  3. Bokura no Ashiato
  4. Kokuhaku
  5. My Dearest
Sekian deh buat postingan kali ini, ngarep banget pengen dengar next song dari supercell dan EGOIST...


Sabtu, 29 November 2014

Chiisa na Kiseki "Part 5: Pekan Olahraga, Langkah Pertama"


Aku tak tahu mengapa dan sejak kapan aku berubah
Menjadi seseorang yang buruk karena membenci seperti ini
Aku hanya merasa ada yang tidak adil
Dan, aku tidak menyukainya.

Pagi ini seisi kelas sepertinya sangat sibuk mempersiapkan pekan olahraga yang seminggu lagi akan diadakan oleh sekolah.  Yuuta dan Hime kelihatannya sangat sibuk menulis laporan, Yuki yang baru saja tiba di kelas menyapa mereka “Yuuta dan Hime jadi panitia yah, sepertiya kalian akan sibuk nih. Seminggu ini. Semangat yah.” Ucap Yuki
“selamat pagi” sapa Hime
“Yuuta tumben pagi ini tidak menjemput aku di rumah” 
“ah, maaf Yuki,  karena kegiatan ini aku harus berangkat pagi ke sekolah. Jam segitu kamu pasti masih tidur kan?” Yuuta mengejek Yuki
“Apa-apaan sih, Yuuta jahat. Padahal aku kan masih sakit”
“Sungguh, aku minta maaf,” Yuuta terlihat bersungguh-sungguh
“Hm… Oke, tapi hari minggu nanti kamu temenin aku untuk check-up yah?”
Yuuta mengacungkan jempolnya “SIpp,,,”
Beberapa saat kemudian, Haru datang menyapa mereka bertiga. Haru menepuk pundak Yuki “Yoooo, Pagi.” Haru  membungkukkan dirinya melihat lembaran kertas yang ada didepan Hime dan Yuuta “wah tugas kalian banyak sekali, pasti susah yah”. Haru tidak menyadari bahwa jarak wajahnya dengan Hime dekat. Namun, Hime yang menyadari hal itu hanya tertunduk malu dengan wajah memerah. Yuuta yang pada dasarnya selalu memperhatikan Hime melihat hal itu, tapi tidak berbuat apa-apa. Berbeda dengan Yuuta, Yuki lalu menarik tubuh Haru yang tadinya membungkuk setelah  melihat ekspresi wajah Yuuta “Yah, sudah-sudah. Haru kembali ketempat mu.”
“Apa-apan Yuki, padahal aku sedang melihat kerjaan mereka.”
Dengan sebelah tangan yang masih bertumpu pada tongkat Yuki menarik tas Haru dan mengajaknya pergi “sudah, sudah.. Ayo pergi”
Seminggu kemudian….
Kelas Yuki saat ini berada di pinggir lapangan yang besar untuk mendukung Hime yang menjadi perwakilan kelas mengikuti lomba lari. Teman-teman berdiri dan meneriakkan nama Hime agar dia bersemangat untuk menang. Yuuta menjadi wasit untuk lomba itu.
Sementara Yuki hanya duduk karena tidak bisa berdiri terlalu lama, lalu Yuki memulai pembicaraan dengan Haru yang duduk disampingnya. “ enaknya melihat orang yang bersemangat mengikuti lomba dan mendengar dukungan teman-teman. Padahal tahun lalu aku yang menjadi perwakilan kelas. Hufftthh..” Yuki menghela nafas panjang.
Belum sempat Haru membalas perkataan Yuki, tiba-tiba Hime pingsan saat mencapai garis finish untuk posisi tiga. Dengan cepat, Yuuta menghampiri Hime yang dan melihat keadaannya. Yuuta menggendong Hime dan segera membawanya ke posko yang memang disediakn untuk hal darurat seperti ini.
Yuki tidak melepaskan pandangannya dari Yuuta yang sedang menolong Hime.  Dia hanya bisa melihat Yuuta menggendong Hime tapi tak bisa melakukan apapun. Dia tidak menyadari bahwa Haru sedang memperhatikannya.
“Yuki-chan” Haru  memegang pundak Yuki yang terlihat sedang melamun.
 Tiba-tiba Yuki tersadar dari lamunanya “Ah, Hime- chan. Aku harus menyusulnya” Yuki segera bangkit dari tempatnya dengan susah payah , untung saja ada Haru yang membantunya, bahkan saat dia hampir terjatuh, Haru menahan badan Yuki. Yuki melihat wajah haru “Terima Kasih” lalu tersenyum.
“kau kenapa sih, dari tadi sepertinya hanya melamun.
Sementara memperbaiki posisi tubuhnya, “Aku tidak apa-apa”
“Apa kau cemburu melihat Yuuta dan Hime?
Mendengar pertanyaan itu, Yuki terdiam sejenak. Lalu berbicra “Haru ngomong apa sih, aku tidak menengerti apa maksudmu. Ayo segera kita menyusul mereka berdua”
Haru mencoba bercanda menghibur “Apkah kau juga ingin aku gendong seperti itu?
“eh, apakah kau pikir aku anak kecil, memalukan, tahu.” Yuki tertawa bersama Haru.
Hime mulai tersadar dan samar-samar terlihat wajah Yuuta dan suaranya yang memanggil-manggil nama gadis berambut panjang itu. “Yuuta..”
“Hime kamu baik-baik saja?
“Iya” Hime sadar dan kemudian merasa kakinya sakit “Kakiku, sakit”
Yuuta memeriksa kaki Hime dan melihat kaki Hime yang bengkak “ sepertinya kakimu terkilir, kamu istirahat saja dulu”
Hime menganggukkan kepalanya.
Yuki dan Haru tiba di tempat Hime dan menghampirinya, “Hime kamu baik-baik saja?” Tanya Yuki
“Kakinya terkilir” jawab Yuuta.
“Mengapa tidak membawanya ke Uks saja, aku akan membantumu, Yuuta-kun” Ucap Haru
Akhirnya mereka berdua membawa Hime ke UKS.
“Aku akan menunggu di sini saja” Ucap Yuki
Yuuta menoleh ke arah Yuki “Baiklah, aku akan segera menemuimu.“
“iya” jawab Yuki singkat.
Sesampainya di ruang UKS, “kalian berdua tidak usah mencemaskan aku, lagipula ada perawat di sini. Kasihan menemani Yuki saja.”
“Baiklah, nanti kami akan menemuimu lagi” Ucap Yuuta.
Haru berteriak saat hendak meninggalkn ruang UKS “Semoga cepat sembuh Hime-chan” lalu mengedipkan matanya dan terseyum
Sekali lagi, Yuuta  hanya bisa melihat saja kejadian itu terjadi didepan matanya.
Sore harinya, “Haru, ayo antar aku pulang, (Yuki lalu melihat ke arah Yuuta yang sedang membereskan mejanya) Yuuta, hari ini kamu antar Hime pulang kerumahnya dengan selamat oke?”
“Kamu tidak apa-apa pulang sendirian?”
“siapa bilang aku pulang sendiri, Haru akan mengantarku pulang.” Yuki memukul pundak Haru yang duduk didepannya untuk memastikan dan meyakinkan Yuuta “kan?”
Haru hanya menunjukkan jempolnya tanda setuju.
“Baiklah, Haru tolong jaga Yuki. Kalau begitu, aku duluan yah..” Yuuta meninggalkan kelas.
Haru membalikkan badannya “Yuki-chan, ayo kita  pulang”
Mata Yuki tertuju pada gerbang sekolah yang memang bisa dilihat dari jendela tempat duduknya “Tunggu sebentar lagi, “
Haru mengikuti saja perkataan Yuki tanpa bertanya apa-apa lagi karena sepertinya dia mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Yuki.
Dari jendela terlihat Yuuta sedang membantu Hime berjalan, pandangan Yuki tak lepas dari mereka berdua yang terlihat berjalan perhlahan-lahan dan akhirnya tidak terlihat lagi.
Haru juga melihat adegan itu, dan kemudian memalingkan pandangannya ke Yuki.
“mereka sudah pulang, ayo kita juga pulang”
“AH, buaknnya aku menunggu untuk melihat mereka berdua.” Yuki berdiri dari bangkunya
“Iya, iya aku mengerti”
Haru dan Yuki berjalan smpai di gerbang sekolah “Haru tidak usah mengantarku. Aku bisa pulang sendiri.”
“Tapi,”
“please” Yuki memaksa
“Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk hati-hati”
“siipppp..”
Yuki dan Haru berpisah saat itu. Setidaknya begitulah pikiran Yuki. Tapi, Yuki tidak mengetahui jika Haru mengikutinya. Dalam perjalanan menuju rumahnya, Yuki tidak konsentrasi pada jalan yang dilaluinya lalu dia tersandung batu dan terjatuh, Yuki melihat lututnya lecet, dan dia pun menangis namun dia menangis bukan karena luka di kakinya, tapi karena dia teringat kejadian di sekolah saat Yuuta dan Hime pulang bersama padahal dia yang biasanya pulang bersama Yuuta, tapi kali ini, mengapa bukan dia. 
Seorang laki-laki tiba- tiba memanggilnya dari belakang “Yuki-chan”
Yuki berharap Yuuta yang memanggilnya dan dia pun sgera berbalik. Dilihatnya pria yang memegang pundaknya dari belakang seketika itu pula raut wajah Yuki terlihat kecewa “Ah, Haru. Kenapa kamu bisa ada di sini?”
Haru tersenyum “hihi, memangnya kamu pikir siapa, mengapa kamu tampak kecewa?”
Yuki segera menghapus air mata di wajahnya
“Sebegitu sakitnya kah, luka ini?”  Haru membantu membersihkan luka Yuki lalu membalutnya dengan sapu tangannya.
“Nanti sapu tangan mu kotor”
“Hanya sapu tangan,” dengan lembut dan perlahan-lahan Haru membalut luka Yuki
Yuki hanya melihat Haru membalut lukanya
“ngomong-ngomong, ternyata kamu cantik juga saat nangis”
Yuki terkejut “eh, apa-apaan sih”  dan memukul pundak Haru
“hahahah” tawa Haru kembali menghibur hati Yuki yang sedih
“Mengapa, mengapa harus Haru yang selalu ada saat aku merasa terpuruk dan sedih?” bisik Yuki dalam hati.
”nah selesai” Haru selesai membalut luka Yuki dan berdiri. Haru membantu Yuki untuk berdiri
Yuki sejenak melihat tangan Haru yang siap menolongnya untuk berdiri. Tangan yang selalu saja ada untuk menolongnya “Terima kasih J
“Aku akan mengantarmu pulang” Akhirnya Haru mengantar Yuki pulang
“Tapi kenapa kamu bisa ada di sini, rumah kita kan beda arah?” Yuki terlihat kebingungan
Haru jadi salah tingkah dan melirik kesekelilingnya “ah,, ettooo..ehh,,,,” akhirnya dia mendapat alasan ”oh, aku tadi ingin menjenguk teman yang sakit dan kebetulan arahnya ke sini”
“siapa, mungkin aku mengenalnya”
Haru bingung harus menjawab apa, lalu dia mengalihkan pembicaraannya “Eh, gimana kaki kamu?”
Yuki melihat kakinya, “Oh, mungkin hari minggu  nanti aku sudah bisa berjalan tanpa penyangga kaki ini”
“hmm…. Kalau begitu boleh aku menemanimu?”
“Eh, tidak usah, aku akan pergi bersama Yuuta. Dia sudah berjanjiakan menemaniku”
“Ooohhh..” Jawab Haru singkat.
Akhirnya Yuki sampai dirumahnya dan Haru pun meninggalkan Yuki dengan perasaan lega.
Yuuta sampai di rumah Hime. “Terima kasih sudah mengantarku pulang”
“Iya, kalau begitu aku pulang dulu yah,”
“kamu tidak mau singgah dulu,”
“Eh, tidak, tidak.. lain kali sja sepertinya ini terlalu cepat untuk bertamu ke rumahmu”
“kalau begitu baiklah. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih untuk hari ini”
“Iya, semoga kamu cepat sembuh”
Hime memperlihatkan senyum manisnya dan tiba-tiba angin menerbangkan rambut Hime yang panjang secara lembut. Yuuta terpukau melihat kejadian yang baru dia lihat pertama kali itu “Hime-chan, apakah kamu punya waktu hari minggu ini?” Yuuta tiba-tiba mengajak Hime untuk keluar seolah-olah dia tidak ingin melewatkan moment yang langka itu.
Tentu saja Hime terkejut dengan ajakan yang tiba-tiba itu, tapi, hime menerima ajakan Yuuta kerena merasa berhutnag budi atas apa yang terjadi hari ini, dan sore itu Yuuta pulang dari rumah Hime dengan wajah yang ceria.
Malam harinya, jam weker di meja samping tempat tidur yuki menunjukkan pukul Sembilan, tiba-tiba ada sms masuk di HP yuki saat dia sedangterbaring di tempat tidurnya membaca novel.
Yuuta: Berikan selamat untukku
Dengan mimik wajah bertanya-tanya Yuki menjawab SMS itu
          Me: selamat untuk apa?
Yuuta: Aku berhasil mengajak Hime keluar
          Me: wah, bagus dong, sepertinya ada kemajuan
Yuuta: aku hanya merasa kalau aku harus berusaha lebih keras   
          Me: Kapan?
Yuuta: Minggu ini. 
Yuki melihat kalender yang trgntung di dinding kamarnnya menunjukkan hari Rabu..
          Me: semoga kamu berhasil dengan usahamu
Yuuta: terima kasih. Jaa, malam, selamat tidur
          Me: ^_^
Yuki membaringkan dirinya kembali. “Enaknya bisa melakukan langkah pertama untuk mendekati orang yang disukai”. Yuki meghela nafas panjang, Hime beruntung, bisa disukai oleh seseorang seperti Yuuta. Yuki berteriak dalam hatinya, arrrgghhhhh!! Mengapa dia tidak merasa senang, padahal Yuuta memulai mengejar hal yang mungkin bisa membuatnya bahagia. Dia berpikir bahwa mungkin saja dia menjadi jahat karena tidak senang dengan  kebahagiaan orang lain. Sejak kapan dia berubah seperti ini? Sebenarnya dia juga tidak menyukai dirinya yang seperti itu, tidak bisa menerima keadaan.

Sabtu, 22 November 2014

Chiisa na Kiseki “Part 4: Ingatan masa Lalu”

Aku percaya keajaiban,
Bahkan seberapapun mustahilnya hal itu, aku ingin berusaha untuk tetap mempercayainya.
Bukankah pertemuan kita ini juga termasuk keajaiban kecil.
Apakah kau tidak mengingatnya, pertemuan pertama kita?.






Setelah sekian lama, akhirnya yuki memutuskan untuk kembali bersekolah walaupun masih harus menggunakan alat yang membantunya berjalan. Awalnya Yuki merasa malu tapi Haru mengatakan untuk tidak memperdulikan perkataan orng lain yang bisanya hanya menjelek-jelekkan, bukan mereka yang merasakan apa yang kita alami, jadi tidak perlu mendengarkan orang yang tidak mengerti dan tidak tahu apa-apa.  Yuki bersyukur Hime dan Yuuta selalu ada disampingnya dan teman-teman kelasnya pun menerima keadaannya.
Di kelas, itu dia Haru Hikari sii murid baru yang setelah memperkenalkan dirinya langsung menyapa Yuki tanpa memperdulikan situasi sekitarnya. “Hai, Yuki chan,” lalu tersenyum.
Serentak teman-teman melihat Yuki dan heran mengapa dia bisa mengenalnya, Yuki lalu salah tingkah dengan sapaan yang tidak tahu kondisi itu. Yah, begitulah Haru tapi yang lebih mengejutkan ternyata Haru langsung disukai beberapa gadis di kelas.
”Yah, harusnya aku tidak perlu terkejut karena Haru mank lumayan keren dengan rambut panjangnya yang ikal dan sedikit acak dan snyum manis yang penuh semangatnya, berbeda dengan Yuuta yang pendiam dan tidak terlalu pandai dalam bergaul, walaupun begitu dia sebenarnya baik, dan punya aura yang menenangkan,” bisikku dalam hati. Yuki tersentak, dan heran mengapa tiba-tiba dia membandingkan mereka berdua. Namun ternyata ada satu hal yang luput dari penglihatannya saat itu.
Jam istirahat, seperti biasa Yuki, Yuuta dan Hime makan siang bersama lalu Haru tiba- tiba saja datang dan bergabung dengan mereka bertiga.. “hai,, hai,, hai..aku boleh bergabung kan.” Padahal kami belum menjawabnya tapi dia sudah duduk duluan.
Yuki memperkenalkan Haru kepada Hime dan Yuuta. Saat aku perkenalkan Hime dan Haru, sepertinya Hime malu-malu untuk menjabat tangan Haru tapi kupikir itu hal yang biasa untuk orang yang baru saja bertemu. Lagi-lagi Haru selalu bisa membuat suasana jadi ramai dengan ceritanya yang menarik dan lucu. Akhir-akhir ini mereka yang biasanya berkumpul bertiga sekarang bertambah lagi seseorang pembuat keributan, siapa lagi kalau bukan Haru, setiap hari mereka dibuat tertawa olehnya.
Suatu hari, Hime ingin membeli buku di Toko buku, namun Yuki tidak bisa dan yuuta harus mengantar Yuki pulang.
“Aku, tidak ada kegiatan apa-apa kok, kalau boleh aku saja yang menemanimu,” ucap Haru.
“tidak merepotkan?,” Tanya Hime. Haru dengan cepat menjawab “tentu saja, aku akan senang bisa membantu Hime yang cantik,” Haru tersenyum. Hime terlihat malu-malu dengan pujian Haru. “Terima Kasih,” Jawabnya.
Dalam perjalanan pulang,  tiba-tiba saja Yuuta membahas sesuatu yang telah lama terlupakan, “Yuki, menurutmu apakah aku bisa bersama dengan Hime?”.
Yuki terkejut, “kenapa kamu brtanya seperti itu, siapa yang tidak bisa menyukai Yuuta, Yuuta kan orangnya baik.” Jawabku. “Mungkin Hime Cuma tidak menyadari kalau Yuuta suka dengannya, Yuuta sih yang tidak pandai mendekati Hime. Maaf, saat ini aku sulit untuk membantu Yuuta. Padahal aku sudah janji.” Tambahnya.
“Tidak apa- apa yuki ini bukan slahmu. Aku mengerti,”
“kalau memang suka sama Hime, Yuuta usaha dong. Yuuta dewasa, Hime juga cantik dan baik, kalian  pasti cocok. Yuki dukung kok. Semangat Yuuta”.
“terima kasih, lalu bagaimana keadaan kakimu?
“hm,, mungkin tinggal sedikit lagi udah sembuh kok.”
Pembicaraan mereka berakhir saat itu. Diperjalanan Yuki merenung mengingat pertanyaan Yuuta yang ternyata masih cukup bisa membuat sakit hati walaupun diputuskannya untuk ingin melupakan perasaan itu. Dipegang dadanya yang sakit dan menenangkannya, “semua akan baik-baik saja!” bisiknya dalam hati.
Di toko buku, Hime sementara mencari buku yang dia inginkan, “apakah kamu sudah mendapatkan bukunya?,” Tanya Haru.
“Belum, aku sementara mencari yang cocok dengan referensi yang kubutuhkn,”jawab Hime.
“oohh,” jawab Haru singkat.
Sementara Hime membaca dan mencari buku yang diinginkannya, Haru tanpa sadar terpana saat melihat wajah serius Hime. Hime yang merasa diperhatikan kemudian melirik Haru dan hal itu membuat Haru salah tingkah. Dia mengambil buku dan berpura-pura membacanya. “wah, bukunya bagus yah,” seru Haru.
Hime bingung melihat Haru dan menegurnya, “Haru, maaf, tapi sepertinya buku yang kamu baca terbalik,” Hime kemudian tertawa kecil.
Haru kembali salah tingkah dan menertawakan dirinya. Melihat Haru tertawa, muka Hime menjadi merah karena dia baru saja melihat ekspresi malu-malu dari pria itu. Haru berhenti tertawa dan melihat Hime.
“Hime, pipimu merah, kamu sakit?,” Haru memegang kening Hime dan hal itu membuat wajah Hime memerah karena malu, dan dia cepat-cepat melepaskan tangan Haru dari keningnya. “aku baik-baik saja,”
“Ah, maaf.!” Mengingat sikap refleksnya tadi Haru menjadi malu dan begitupula dengan Hime,
 “tidak ap-apa,” jawab Hime dan kemudian kembali mencari buku yang diinginkannya.
Hime merebahkan dirinya di tempat tidur. “Haru Hikari” nama itu disebutkannya dia mengingat kejadian saat sosok itu memperkenalkan dirinya sebagai murid baru dan kehadiaran Haru sempat membuatnya terkejut.
 Hime mulai mengingat –ingat kembali masa waktu dia berumur 10thn. Saat itu Hime baru sja pindah ke daerah tempat tinggalnya. Saat itu, dia menangis sendirian di jalan karena tersesat saat ia hendak menyeberangi persimpangan jalan sebuah motor tiba-tiba muncul, seorang anak laki-laki dengan pakaian yang agak kotor menarik tangannya  dari belakang lalu mereka jatuh bersama.
Hime melihat siku anak itu terluka karena menahan badannya saat terjatuh “tanganmu?”
Anak itu melihat sikunya “ah ini, tidak apa-apa. Aku kan laki-laki jadi aku kuat” anak itu tersenyum, walaupun Hime seperti bisa merasakan bahwa luka anak itu sebenarnya perih.
“Lagipula mengapa kamu menangis di jalan, berbahaya tahu.” anak itu bertanya
“Aku tersesat, aku mau pulang” Hime kembali menangis
“Ah, sudah diam jangan menangis, kamu tinggal di mana, aku akan mengantarmu” anak itu menarik tangan Hime dan memegannya erat.
Hime mengikuti saja ke mana anak itu menariknya, dia melihat tangannya yg dipegang oleh dan sesekali pula melihat wajah anak yang memegang tangannya itu.
Akhirnya, Hime kecil sampai tepat di depan rumahnya. Anak yang menolongnya menyebutkan  namanya “Haru Hikari” lalu tersenyum  lebar. Cara haru menyebutkan namanya masih sama seperti dulu. Lalu bagaimana mungkin Hime bisa melupakan anak yang kini telah menjadi seorang lelaki tersebut.

Apakah ini sebuah keajaiban dia bisa bertemu lagi dengannya? Bahkan seberapapun mustahilnya hal itu, takdirkah?. “Bisakah aku menganggapnya seperti itu, karena aku ingin mempercayainya. Mungkin pertemuan saat ini dan saat itu juga termasuk keajaiban kecil.” Hime tersenyum. Disebutkannya sekali lagi nama itu lalu dia tertidur. Walau Haru sepertinya tidak mengenali Hime saat pertama kali bertemu.

Chiisana Kiseki "Part 3: Pria yang Membuat Perasaan Berubah”



Pria itu mampu membuat seorang gadis tersenyum. 
Dia yang membantu seorang gadis menerima keadaannya yang kurang beruntung dan
Dia, yang bisa melihat kehidupan yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna…

Yuki terbangun,  disebuah tempat yang tidak dikenal, tempat yang tak pernah dia kunjungi . kamar itu dindingnya berwarna putih. Yuki melihat ke luar jendela, yang terlihat adalah langit yang sangat cerah. Dia juga melihat sekumpulan bunga matahari dlam sebuah pot kaca yang transparan.
“Di mana aku?,” tanyanya dlam hati. Kemudian dia melihat tangannya yang terinfus serta berbagai macam alat kedokteran lainnya dan kemudian teringat kembali saat kecelakaan itu terjadi. Dia berlari, dan menyeberang jalan lalu tersandung oleh kakinya sendiri karena berlari. Kemudian mobil itu datang, dan, dia tidak sanggup lagi untuk mengingatnya.
“tok, tok, tok..” pintu kamar RS itu berbunyi. Yuuta datang bersama Hime dengan wajah yang cemas, “apa kau tidak apa-apa?” Tanya Yuuta cemas.
“menurutmu?” .
“tubuhmu kan masih lemah jadi kamu berbaring saja.” Yuuta menghampiriku dan duduk dibangku samping ranjang. “aku sangat khawatir saat mendengar kabar kecelakaanmu,” Yuuta menyambung perkataannya.
 “untunglah kamu cepat sadar yuki-chan aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku harap kamu segera membaik dan kemudian bisa berkumpul dengan kami lagi.” Ucap Hime menyemangati.
 “terima kasih..” balas Yuki.
Yuuta  yang duduk disamping tempat tidur memegang tangan Yuki, “kamu pasti akan baik-baik saja, aku akan selalu ada disamping kamu bagaimanapun keadaanmu.”
Yuki menarik tangannya melepaskan genggaman Yuuta dan bercanda dengannya, “kamu kenapa sih, jangan sok romantic gini deh. Aku kan tidak apa-apa, palingan dua atau tiga hari lagi juga udah bisa berkumpul dan jalan bersama-sama kalian lagi.” Aku tertawa kecil.
Hime terkejut, “Yuki-chan, manknya belum ada yang bilang tentang keadaanmu?”
“kenapa?, aku baik-baik saja kok, tidak ada yg…” Yuki heran mengapa Hime bertanya seperti itu lalu aku mencoba untuk duduk tapi, ada yang aneh dengan tubuhnya. Kakinya tak bisa digerakkan. Yuki mulai cemas, “kakiku..” dia melihat ke arah Yuuta dan Hime dengan panik.
Yuuta dan Hime terdiam dan melihat Yuki dengan iba. “kenapa kalian berdua melihatku seperti itu?” dia membentak mereka berdua karena ketakutan, “kenapa kalian diam saja?,”.
Hime memeluk Yuki, “semua akan baik-baik saja, yuki chan. Kamu hanya perlu bersabar menghadapi keadaan ini.” Hime berusaha menenangkanku, namun dia sendiri menangis.
Yuki ikut menangis melihat perhatian Hime yang bukannya menenangkan malah semakin membuat takut dan cemas. “apa yang terjadi, mengapa tidak ada yang menjawab pertanyaanku?”. Perasaan kesal karena merasa dirahasiakan sesuatu membuatnya jengkel. Yuki melepaskan pelukan Hime, “biarkan aku sendiri,” ucapnya pelan pada mereka berdua.
“kamu yakin??,” Tanya Yuuta.
“apakah aku terlihat bercanda?” jawab Yuki dan melihaat ke  arah Yuuta.
“kamu tidak apa- apa yuki-chan?” Tanya Hime.
Aku menutup mataku, “aku mohon,,, kalian berdua keluar, aku ingin sendiri.”
“baiklah, tapi nanti kami akan kembali lagi untuk menjengukmu.” Kata Yuuta, Yuki hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Yuuta menarik tangan Hime dan mereka berdua pun keluar. Hime tidak melepaskan pandangannya dari Yuki. Namun, dia tidak ingin melihat kepergian mereka, Yuki hanya memalingkan wajahnya melihat ke  luar jendela RS sudah cukup dia berusaha untuk menahan sakit yang diderita saat ini, tak perlu dipedulikannya rasa cemburu yang melanda saat melihat mereka berdua berpegangan tangan seperti itu.
  Akhirnya Yuki tahu keadaannya saat ini, kedua kakinya lumpuh karena kecelakaan itu, dokterpun tidak bisa memastikan apakah bisa disembuhkan atau tidak, trgantung dari kondisi pasiennya. Dokter hanya bilang akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyembuhkannya “Untuk saat ini, cukup menjalani terapi dulu” kata si dokter menenangkan.
Di atas tempat tidur, Yuki duduk dan melihat langit luar, dia mengingat perkataan dokter tadi dan mengeluh, “Aaarrgghh sampai kapan aku harus bergantung kepada kursi roda itu?” Yuki mulai kesal karena kembali mengingat hari saat kecelakaan. Dia berteriak “Siialll..!!!” dia tidak peduli apakah ada yang mendengar  teriaknnya atau tidak.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar RS yang ditempati, dengan panik.. “Ada apa, maaf aku mendengar seseorang berteriak jadi aku tiba-tiba saja masuk karena siapa tahu saja ada yang membutuhkan pertolongan,” katanya.
Dengan mata yang masih penuh dengan air mata dan bengkak yuki menjawb pertanyaan orang itu “oh, maaf, sepertinya suaraku kebesaran, jadi terdengar sampai di luar. Tapi tidak ada apa-apa kok,” dia mengusap air matanya.
Orang itu melihat Yuki , “lalu mengapa kamu menangis, apakah ada yang sakit?,” Tanya orang itu yang masih berdiri dekat pintu.
“tidak ada apa-apa. Anda tidak usah khawatir,”
“ooohhhh… ya uwdah, kalau ada apa-apa, ada tombol emergency dekat tempat tidurmu.” Orang itu menunjuk tombol emergency yang sebenarnya sudah yuki tahu ada di sana dan kemudian menutup pintu dan pergi.
“iya makasih!,”.
Malamnya, Handphone bunyi tanda sms masuk. Yuki membuka sms dari Yuuta “Yuki, bagaimana keadaanmu, apakah kamu baik-baik saja? Bolehkah aku menjengukmu besok?”
“apa maksudmu bertanya seperti itu? Tentu saja kamu boleh datang untuk menjengukku. Aku baik-baik saja. Maafkan sikapku kemarin.” Balas Yuki.
Yuuta membalas, “baiklah, besok aku akan datang dengan Hime, dia sangat mencemaskanmu.”
Yuki menjawab singkat, “baiklah”.
Keesokan harinya, Yuki merasa bosan berada di dalam kamar, jadi dia memutuskan untk berjalan-jalan di taman RS. Suster mengantarnya hingga ke taman lalu Yuki ingin sendiri dan menyuruh suster itu pergi. Dilihatnya sekeliling, ada banyak bunga-bunga indah yang tersusun rapi, ada anak-anak yang bermain, ada seorang kakek di atas kursi roda yang berjalan-jalan bersama nenek yang mungkin adalah istrinya, mereka tampak sangat bahagia. Ada juga seorang pria dengan rambut yang agak panjang dan acak”kan duduk dan bersandar di bawah pohon dia kelihatannya sedang menggambar anak-anak yang bermain tadi.
Tapi tunggu dulu, sepertinya aku mengenalnya. “oh,” ternyata dia adalah seseorang yang kemarin tiba-tiba masuk kerena mendengar Yuki berteriak.
Dia ingin menyapanya, tapi dia kan tidak mengenalnya. Jadi dia mengurungkan niatnya. Dia kembali melihat dan menikmati pemandangan bunga-bunga yang ada di depannya. Yuki menutup matanya sejenak karena ingin menikmati sejuknya angin sore itu.  Saat dia membuka matanya, ternyata pria yang dilihatnya tadi sudah berdiri dengan senyum manisnya didepan Yuki. Yuki meihatnya dengan ekspresi heran.
“hai,” dia menyapa Yuki. Yuki tersenyum kecil. “kamu gadis yang kemarin kan,” Tanyanya.
“iya.” Jawab Yuki singkat.
Dia mengulurkan tangannya, “Haru Hikari,”..
“eh???,” Yuki heran mengapa ada pria tiba-tiba menghampiri dan memperkenalkan dirinya. “Yuki Fuyuki,” Yuki membalas mengulurkan tangannya.
“kau boleh memanggilku Haru, jadi, bolehkah aku memanggilmu Yuki?,” tanyanya.
 “terserah,”
Mereka berdua berkenalan dan saling mengobrol hal-hal yang biasa.  Beberapa saat kemudian, Haru pergi lalu Hime dan  Yuuta datang dan menyapa.
“Yuki bagaimana kabarmu” Tanya Yuuta
“Sperti yang kalian lihat aku baik-baik saja” Yuki mengeluarkan senyumnya untuk menunjukkan kepada teman-temannya kalau dia baik-baik saja.
“Untunglah,” Hime terlihat sangat senang dan wajahnya terlihat bersinar cerah “Lalu kapan  kamu bisa keluar dari RS ini??”
“Aku tidak tahu, katanya aku masih harus menjalani beberapa pemeriksaan dan pemulihan”
Yuuta mendorong kursi roda Yuki dan mengajaknya kembali ke kamar. Hime jalan duluan. Lalu Yuki berbisik kepada Yuuta, “hei Yuuta-kun, gimana hubunganmu dengan Hime, apakah ada perkembangan?”.
Yuuta kelihatannya malu dengan pertanyaanku, dia kemudian mendekatkan wajahnya ketelinga Yuki dan berbisik, “buat apa kamu mencemaskan hal itu, lebih baik kamu fokus saja dengan kesembuhanmu, oke.”
“hhmm…” jawab Yuki singkat. Angin berhembus, menerbangkan daun-daun dan percakapan hari itu pun berakhir. 
Keesokan harinya, seseorang mengetuk pintu kamar Yuki saat dia masih dalam keadaan berbaring, wah, dia kira siapa ternyata orang sok kenal kemarin yang datang. “yoo..”Haru menyapa.
 “hi” jawabku singkat.
 “boleh aku masuk?”
 “tentu saja, tubuh kamu kan sudah setengah di dalam,” jawab Yuki sambil tertawa kecil.
Rupanya selain memiliki keahlian sok kenal, Haru juga cukup banyak bicara namun bersemangat, Yuki suka  kepribadian orang ini, dia bisa membuat orang nyaman dan senang berada di dekatnya. Setelah lama ngobrol berbagai hal dengannya dan dibuat tertawa oleh tingkah Haru yang lucu, Yuki lalu bertanya tentang diri Haru, “ngomong-ngomong mengapa aku sering melihatmu, siapa yang sakit, keluarga?” .
 “bukan,” jawab Haru singkat,
“lalu siapa”?.
“kamu bener-bener ingin tahu?,” Haru mulai memutar-mutar pertanyaannya
 “yah, nggak bener-bener ingin tahu sih, Cuma bertanya aja.”
“aku pasien yang ada di lantai dua,”
”lantai dua, bukankah itu untuk pasien dengan penyakit yang berat?”
 “yah, mungkin kamu bisa mengatakan seperti itu,”
“Tapi kamu terlihat sehat-sehat saja,”
 “Aku mank sehat, bukannya terlihat sehat.”
 “dasar, dalam keadaan seperti ini masih saja bercanda, aku serius ni,”
 “sejak 4 tahun yang lalu, kondisi tubuhku melemah jadi aku harus sering check-up di RS.”
Walaupun Yuki terkejut mengetahui keadaannya, namun Haru terlihat tidak terbebani dengan penyakitnya.
“Kamu tidak usah terkejut seperti itu, aku saja tidak apa-apa,”ungkap Haru.
“Aku tidak menyangka kamu bisa menerima hal ini dengan mudahnya,”
“Buat apa terbebani dengan hal seperti ini, itu hanya akan memperburuk keadaanku saja. Sekarang aku ingin menikmati hidupku, dan mensyukuri setiap detiknya bersama orang2 yang ada disekitarku,” Haru menjelaskan tentang hal ini dengan entengnya, seolah-olah itu bukan hal yang besar. “dulu, aku memang sempat tidak menerima keadaanku, tapi setelah sekian lama, aku mulai berpikir, walaupun aku mengeluh, tidak akan ada yang berubah. Sekarang aku hanya bisa berusaha untuk melakukan apa saja yang aku bisa selagi aku masih bernapas.” Tambahnya dengan tersenyum.
Yuki terdiam mendengar penjelasannya. Salut dengan Haru, dia bisa melihat keadaannya dengan cara yang berbeda, dia juga mengajariku tentang mensyukuri apa yang selama ini telah dimiliki. Sesaat itu pula, Yuki merasa malu pada dirinya, yang selalu saja mengeluh atas apa yang dialami padahal ada yang lebih menderita daripada dia.
“pantas saja dia selalu saja melakukan apa yang dia sukai seenak hatinya, pasti dia tidak ingin melewatkan seharipun tanpa makna,” bisikku dalam hati.
“hei,,, “ Haru melambaikan tangannya di depan wajahku yang sedang melamun.
“Apa kata dokter tentang penyakitmu?,” Tanya Yuki, namun Haru hanya memberi isyarat bahwa dia juga tidak tahu dengan mengangkat kedua bahunya.
Yuki memberikan semangat pada Haru, “Tenang saja, kamu pasti bisa sembuh.” Haru tertawa mendengar motivasi yang diberikan padanya. Ya ampun Yuki sangat malu melihat Haru tertawa dia kemudian mengembungkan pipinya pertanda kalau dia sedang ngambek.
“ahahaahhah, jangan ngambek gitu dong. Iya, iya aku terima semangatmu. Tapi,,,”  Haru mengulurkan tangannya, “kamu tidak usah mengingatkanku tentang penyakitku, kita anggap saja percakapn ini tidak pernah terjadi oke.??,” Yuki pun mengulurkan tangan tanda setuju dengan permintaan Haru mereka bersalaman.
Setelah itu, Haru menanyakan kapan Yuki keluar dari RS, dan sekolahnya. Tapi, bukan Haru namanya jika dia tidak bisa memberikan kejutan, ternyata benar dia cukup mngejutkan gadis berambut pendek itu saat dia bilang dia ingin pindah ke sekolahnya. “sepertinya aku ingin mencoba hal yang baru lagi dengan pindah kesekolahmu, kehidupan tidak boleh diberi batas kan,?” katanya.
Ditengah-tengah percakapan panjang antara Yuki dan Haru, yang paling Yuki suka saat Haru berkata, “Anggap saja semua yang ada di dunia ini sebagai keajaiban, jangan melewatkan hal yang menyenangkan sedikitpun,”. Yah, dia memang selalu terlihat lebih sehat daripada orang yang sehat.
Bersama dengan pria berambut agak acak2kan itu Yuki mulai melupakan sakit yang dialami, Haru pula yang membantu Yuki menerima keadaannya saat ini. Dia selalu punya cara untuk membuat Yuki tersenyum dan siapa sangka saat bersama dia Yuki bisa lupa tentang perasaannya kepada Yuuta. Namun, apakah keberadaan Haru benar-benar bisa membuat perasaan Yuki berubah dan melupakan seseorang bernama Yuuta?.
Setelah bertemu dengan Haru, Yuki bersemangat walau harus berminggu-minggu menjalani rehabilitasi untuk bisa berjalan lagi, Hime selalu ada di dekatnya untk membantu dan menyemangati. Hime memang baik, cantik, dia sangat cocok untuk Yuuta sahabtnya yang dia sayangi, apakah dia salah saat dia mencoba untuk mengungkapkan perasaannya kepada Yuuta? tidak, dia tidak salah! Hanya saja Yuki merasa sepertinya dia telah menemukan orang yang memang cocok untuk Yuuta.

Berada di rumah sakit membuat Yuki banyak berpikir. Dia mulai berpikir kalau dia tidak boleh egois, lagipula jika dia mengungkapkan perasaannya kepada Yuuta bisa saja hubungannya nanti dengan Yuuta akan menjauh apalagi dia tahu jika perasaan Yuuta bukan untuknya. Tentu dia tidak ingin hal seperti itu terjadi. Mungkin dia harus merasa cukup dianggap sebagai adik oleh lelaki yang dia sukai. 

Sabtu, 08 November 2014

9/11/2014


Happy b'day to Me..

Hellooo,, helloo,, to my self
wah, tambah tua setahun nih.
Hanya berharap yang terbaik
yah, walaupun aku sering mengatakannya
Tapi tidak ada hal yang terbaik selain berusaha untuk menjadi lebih baik..

My Capsule Time

This note just for me in future. I will make it as my capsule time that will I reopen when I have a new life.


          
Untukku yang sekarang dan untukku yang akan datang.
1.           Berhentilah merasa jadi pihak yang selalu benar..!!
Beberapa orang entah disadari ataupun tidak, selalu saja ingin menjadi pihak yang benar. Tentu saja banyak cara untuk bisa menjadi pihak yang benar, salah satunya dengan berdebat. Perbedaan pendapat dan perbadaan sudut pandang ikut serta didalamnya. Namun, bisakah orang tua juga berhenti bersikap seperti itu?
Beberapa dari mereka selalu merasa menjadi pihak yang benar bukannya aku bilang itu adalah hal yang salah, tapi terkadang mereka terkesan memaksakan kehendak mereka dan saat anak mengeluarkan pendapatnya, si anak dianggap tidak patuh. Jadi bisakah kita berhenti menjadi pihak yang benar?, dan bisakah kita sama-sama mengeluarkan apa yang ada dipikiran kita dan saling mengoreksi kesalahn masing-masing?

2.           Berhentilah menyudutkan.
Tahukah para orang tua, saat kalian memberikan julukan, misalnya si “Bodoh” kepada anak itu hanay akan membuatnya berpikir, “Mungkin aku memang seperti itu, bodoh dan tak bisa apa-apa”. Kalau begitu, selamat karena mereka memang benar menilai anaknya seperti itu. Jadi, tidak ada masalah lagi kan, karena anaknya sesuai dengan yang mereka bilang.
Semakin seseorang dikritik, tanpa penjelasan, pengarahan, dan pemahaman terlebih dahulu, hanya akan membuat seseorang pesimis. Walau ada beberapa orang yang tidak peduli dengan kritikan. Lalu bagaimana jika kritikan itu datang dari orang terdekat?
Yang sulit dihentikan adalah membuat orang lain berhenti menggunakan pendapat pribadinya untuk menilai sesuatu karena itu kembali kepada hasrat menjadi si “Benar”

3.           Berikan penghargaan
Indahnya saat mengetahui bahwa seseorang sedang menghargai kita. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat orang merasa dihargai, bahkan hanya dengan ucapan “Terima Kasih” that’s enough. Apalagi saat seseorang merasa terterkan, yang dibutuhkan hanyalah motivasi. Jika tidak bis memberikan perhatian dan dukungan setidaknya jangan menyudutkan.
New Post