Sabtu, 27 Desember 2014

Chiisa na Kiseki "Part 6: First Date dan Janji yang terlupakan"

Mungkinkah ini cinta, 
Tiba-tiba ada perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya muncul
Pertama kali kusadari, juga saat pertama kali aku melihatmu
Saat kusadari hal itu, 
Kuputuskan untuk tidak menyerah dan   melepaskannya
Karena aku suka kamu.!!

Yuki lagi-lagi melamun di bangkunya, dia merasa sangat kecewa dengan Yuuta yang begitu mudahnya melupakan janjinya yang baru saja dia ucapkan kemarin. Kemudian Yuuta menghampiri Yuki dan duduk di bangku yang ada di depan Yuki
“Yuki kamu kenapa, akhir-akhir ini kamu sering melamun dan mulai sering kesekolah sendirian”
Yuki tersenyum kecil “tidak apa-apa,”
“hm, kamu yakin? kalau begitu jika ada masalh cerita ke aku yah.”
“Masalah aku itu kamu” Ingin sekali Yuki mengatakan hal itu, tapi dia menahannya dan hanya mengucapkannya dalam hati.
“Oh iya sepulang sekolah nanti aku mau berbicara sesuatu padamu.”
“iya” jawab Yuki singkat
Kemudian Haru datang dan seperti biasa menyapa Yuki dan Yuuta. Melihat Haru datang, Yuuta segera berdiri dari bangku Haru, “Pagi Yuki, Yuuta”
“Pagi Haru, kemarin terima kasih”
“No problem”
“Aku ke bangku aku dulu ya” ucap Yuuta
Hime datang dan duduk dibangkunya setelah mengucapkan selamat pagi pada teman-temannya dan langsung memulai percakapan dengan Yuuta.
“Yuuta mengenai acara minggu ini, apakah aku boleh mengajak Yuki?”
“Eh, terserah kamu,” walaupun sebenarnya Yuuta berharap hanya bisa pergi berdua dengan Hime.
“baiklah aku akan menanyakannya” Hime kemudian menghampiri Yuki, yang bangkunya hanya dipisahkan oleh bangku yuuta.
“Yuki, hari minggu ini aku dan Yuuta akan pergi bersama apakah kamu mau ikut?”
Yuki kemudian teringat jadwal check-upnya pada hari itu.
“Maaf, hari itu aku ada urusan.”
Haru yang selalu ingin tahu, tiba-tiba berbalik “apa, apa?, jalan-jalan apa aku boleh ikut”
“Apakah Haru mau pergi?”
“Oh, tidak bisa. Haru, bukannya kamu sudah janji  akan menemaniku Minggu ini?
“Eh, benarkah?” Haru bingung
Yuki memberikan kode kepada Haru “Masa kamu lupa?”
Haru menerima isyarat Yuki “Oh iya,, benar aku harus menemanimu ya??. “
“Jadi kalian berdua tidak bisa pergi yah?” Hime tampak kecewa.
“Maaf Hime, Lain kali ya.” Ucap Yuki
“hm,, baiklah kalau kalian berdua tidak bisa” Hime lalu kembali ke bangkunya.
Sepulang sekolah
Kelas mulai kosong, Hime mengajak Yuki pulang tapi Yuki mengatakan kalau dia mempunyai urusan dan menyuruh Hime dan Haru pulang duluan. Setelah kelas kosong, Yuuta menghampiri Yuki dan berdiri di samping meja Yuki.
“ada apa Yuuta, kalau mau bicara kan, bisa diperjalanan pulang atau bisa lewat Hp” Yuki sementara membereskan buku-bukunya.
Yuuta tiba-tiba mengungkapkan apa yang dia rasakan,
“Aku suka kamu, Tiba-tiba muncul perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya
Pertama kali kusadari, juga saat pertama kali aku bertemu denganmu
Saat kusadari hal itu, Kuputuskan untuk tidak menyerah dan melepaskannya
Karena aku suka kamu.!!”
Yuuta menyelesaikan kalimat itu tanpa melihat Yuki, dia hanya menundukkan kepalanya karena malu dengan apa yang telah dia ucapkan. Yuki terkejut mendengar pengakuan yang tiba-tiba itu.
“Yuu,,, yuu.. ta,, itu??” Yuki tergagap, matanya berkaca-kaca.
Yuuta yang masih berdiri disamping meja Yuki kemudian terduduk dan masih melihat ke bawah, dia tidak berani melihat wajah Yuki. Yuki perlahan-lahan ingin memegang kepala Yuuta dan membelainya
“menurutmu jika aku mengatakannya, Hime akan menerimaku?”
Tangan Yuki yang hampir menyentuh rambut Yuuta, terhenti dan Yuki menarik kembali tangannya. Yuuta memberanikan diri melihat wajah Yuki. Yuki salah tingkah
“Boo..boo…Bodoh, mana mungkin dia akan menolak., Aku saja hampir salah sangka”
Terlihat wajah bahagia dari Yuuta “Terima kasih, aku senang mempunyai sahabat sepertimu” karena senang, Yuuta bangkit dan memeluk Yuki yang masih terduduk di tempatnya. Ingin sekali dia segera beranjak pergi dari tempat itu. Tidak ada sedikitpun raut wajah bahagia yang muncul diwajahnya, dia hanya memaksakan senyumnya dengan air mata yang tertahankan. Tiba-tiba Haru muncul dan membuat keributan dengan menggeser pintu kelas dengan keras “Aduh,, aku melupakan sesuatu”
Yuuta melepaskan pelukannya. Haru menghampiri Yuuta dan Yuki karena memang bangku Haru di depan bangku Yuki.
“Yuuta kamu pulang duluan saja” Ucap Yuki
“Tapi??”
“Tenang saja aku yang akan mengantar Yuki pulang” Ungkap Haru
Yuuta curiga ada hubungan antara Yuki dan Haru “hmm baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian, Yuki hati-hati yah” Yuuta mengambil tasnya lalu meninggalkan mereka berdua.
Nampak punggung Yuuta perlahan-lahan meninggalkan kelas dan kemudian menghilang. Haru duduk dibangkunya “sekarang kamu boleh nangis sepuas-puasnya, “
“Apa maksudmu, siapa juga yang pengen nangis??” Yuki mengatakan hal itu, tapi perlahan-lahan air matanya mengalir dan dia pun menangis, karena malu di lihat oleh Haru dia menundukkan wajahnya di bangkunya
Haru hanya terdiam melihat Yuki. Haru juga ingin melakukan hal yang sama seperti yang Yuki lakukan tadi kepada Yuuta karena ternyata Haru melihat dan mendengar pembicaraan Yuuta dan Yuki. Saat dia pulang bersama Hime, dia beralasan jika dia melupakan sesuatu di  kelas jadi dia kembali karena khawatir dengan Yuki, dan ternyata kekhawatirannya benar. Tangan Haru perlahan-lahan mendekati kepala Yuki, tapi kemudian Haru pun mengurungkan niatnya.
“argghh,,,, aku lapar” teriak Haru
Yuki lalu melihat Haru dengan matanya yang bengkak dan masih dipenuhi air mata. Haru menghapus air mata Yuki “Aduh, kasihan sekali, wajahmu sampai basah seperti ini. Bisakah kamu berhenti?”
Yuki bingung, “berhenti?”
“Iya, berhenti menyakiti diri kamu”
Yuki terdiam
Haru menatap Yuki dengan serius, “Aku lebih bisa membuatmu bahagia dan tersenyum daripada Yuuta”
“Apa maksudmu, ini bukan tentang Yuuta.” Yuki mengelak
“Kamu masih bisa bilang ini bukan tentang Yuuta, lalu??”
Suasana sekitar Yuki mulai tidak mengenakkan baginya, Yuki memaksakan dirinya tertawa dan mulai mengajak Haru bercanda lagi “Eh, kamu kenapa sih, bukan kah tadi kamu lapar? Ayo kita cari makan”
Haru mengikuti alur pembicaraannya “Kamu mau makan di mana? Oh iya, kamu beneran mau ditemani hari minggu nanti?”
Yuki terkejut Haru masih mengingat pembicaraan tadi pagi.  Dia mulai menampakkan senyumnya lagi “terserah kamu”
“Yoshhh. Oke.”
Minggu
Sudah beberapa bulan Yuki tidak menginjakkan kakinya di Rumah sakit ini, dia Cuma bisa diam saat dokter melakukan beberapa pemeriksaan pada kakinya, akhirnya dia tidak perlu lagi menggunakan alat mengganggu itu. Yuki menemui Haru yang sedari tadi menunggunya di depan ruangan dokter. Tampak wajah ceria dari gadis itu.
“Bagaimana?” Tanya Haru
“apanya yang bagaimana, tentu saja aku sangat senang”
“Kalau begitu untuk merayakannya bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman hiburan?” ajak Haru
“tentu saja, ayo..” dengan wajah berseri-seri Yuki menarik tangan Haru
“jangan paksakan dirimu, kamu kan baru sja bisa berjalan tanpa tongkat”
“Tidak apa-apa, aku baik-baik sja kok”
Yuki berbisik dalam hatinya “aku benar baik-baik saja kan?, aku tidak perlu mengingat kesedihan ku lagi kan?, sudah berapa kali aku mengulang dan memikirkan hal yang sama. Sudah berapa kali aku menangis karena orang yang sama, ini saatnya aku untuk berubah kan?, ini saatnya untuk melupakan. Haru, bisakah kamu membantuku??”
Haru dan Yuki menuju ke taman hiburan tapi mereka berdua tidak tahu Hime dan Yuuta juga ada di sana. .
Hime dan Yuuta menikmati pemandangan akuarium besar yang ada di taman hiburan
“sayang sekali yah, Haru dan Yuki tidak bisa ikut bersama kita” Ucap Hime
“ahaha, iya yah. Tapi kenapa?”
“katanya Yuki ada urusan, tapi aku tidak menanyakannya”
“Urusan,??” Yuuta mulai mengingat-ngingat, lalu dia teringat tentang janjinya kepada Yuki “ya Ampun, kenapa aku bisa melupakannya”
Hime menoleh ke Yuuta dengan ekspresi kebingungan “Ada apa Yuuta?”
“Maaf Hime, tapi bisakah kita membatalkan acara hari ini, aku baru ingat kalau aku ternyata punya janji dengan Yuki.”
“Astaga, Yuuta kenapa kamu bisa melupakan hal itu. Kasihan Yuki. Tapi, Janji apa??”
“Aku janji untuk menemaninya untuk Check-up hari ini, Ya ampun kenapa aku bisa lupa. Bodoh, bodoh.”
“Kalau begitu harusnya kamu segera menyusul Yuki. Tidak apa-apa aku bisa pulang sendiri”
“Benarkah? Sekali lagi aku minta maaf yah Hime. Kalau begitu aku pergi dulu. Dah..!!”  Setelah meminta maaf kepada Hime, Yuuta segera menuju ke RS. Dia mengambil HP yang ada di kantongnya dan menghubungi Yuki namun tidak diangkat karena Yuki lupa membawa Hp nya. Yuuta berlari, dia tidak melihat saat dia berpapasan dengan bis yang dinaiki  Haru dan Yuki, terlihat Yuki duduk dekat jendela dengan senang berbicara dengan Haru.
“Mengapa kamu tidk mengangkat teleponnya Yuki??” bisik Yuuta dalam hati, saat ini dia berada dalam bis dan tidak berhenti menelpon Yuki.
Haru dan Yuki sampai di taman hiburan. Mereka terkejut saat bertemu dengan Hime di pintu masuk taman itu.
“Hime,” Yuki memanggilnya
Hime terkejut saat melihat Yuki tanpa tongkatnya, “Yuki, kenapa kamu disini?”
“Kok kamu bilang kenapa, tentu saja untuk bermain kan. Hime kamu aneh. Ahahah”
“Tidak, bukan begitu tapi tadi Yuuta bilang dia ingin menyusulmu ke RS.”
Yuki terkejut, “Eh, benarkah? Tapi, dia tidak menghubungiku” Yuki melihat ke dalam tasnya dan dia baru saja menyadari kalau dia melupakan Hpnya. “A..ah.. Siall aku melupakan Hp ku. Haru pinjam Hpmu.”
“Ok” Haru mengeluarkan Hpnya dari kantong celananya.
Tampak sedikit rasa cemburu di wajah Hime melihat Yuki dan Haru bersama dan begitu akrab “kalian berdua akrab sekali yah.” Ungkapa Hime dengan sedikit senyum terpaksa dari bibir tipisnya.
Haru merangkul Yuki “Tentu saja, kami kan bersahabat. Kan Yuki.”
Yuki melepaskan rangkulan Haru, “tunggu sebentar, aku sibuk”
“Mou,,, Yuki” Haru menghela nafas panjang.
Walaupun Hime terlihat senang dengan candaan Haru, tapi dalam hatinya sebenarnya dia bertanya-tanya tentang hubungan Yuki dan Haru. Sementara itu di bus, Yuuta melihat Hpnya yang berbunyi dan nampak nama Haru Hikari. Saat dia mengangkat hp itu, tiba-tiba berbunyi peringatan dan Hpnya lowbet. Melihat Hpnya yang lowbet, Yuuta hanya menghela nafas dan menaruh Hp itu kembali ke dalam kantong celananya.
Saat ini dia merasa sangat menyesal karena telah melupakan janji yang telah dia buat kepada Yuki. Yuuta berfikir mengapa Yuki tidak mengingatkannya saat Yuuta melupakan janjinya?, apakah Yuki tidak ingin menggangu Yuuta dengan Hime, dasar gadis bodoh. Kapan dia dewasa?. Tidak, bukan Yuki yang tidak  bersikap dewasa, tapi Yuuta merasa dia yang ceroboh karena telah melupakan janjinya. Lagi-lagi dia menghela  nafas dan menyandarkan kepala di jendela bis.
“Kenapa Hpnya tiba-tiba mati?” Gumam Yuki
“ ada apa Yuki?” Tanya Haru
“Tiba-tiba hp Yuuta mati.” Yuki merasa cemas. Dia segera menyerahkan Hp Haru dan berlari meninggalkan Haru dan Hime
“Kau mau kemana?” Haru berteriak
Langkah Yuki terhernti dan berbalik ke arah teriakan itu “Aku akan menyusul Yuuta”
“Dia bilang dia ingin menyusulmu ke RS” teriak Hime
“baiklah. Jaa, sampai jumpa besok” Yuki kemudian berlari dan meninggalkan Hime dan Haru.
“Hati-hati kamu baru saja bisa berjalan tanpa tongkatmu.” Teriak Haru lagi. “ya ampun, mereka berdua ceroboh yah.” Ungkap Haru kepada Hime
“hehehe, kamu benar.”jawab Hime
“karena kita sudah ada di sini kenapa kita tidak masuk saja dan bermain?” Haru tersenyum kepada Hime, dan hal itu membuat Hime tersipu.
“Tapi, aku baru saja dari dalam”
“sudahlah, ayo kita bersenang-senang” Haru menarik tangan Hime dan masuk ke taman hiburan.
Mereka makan kembang gula, dan menikmati beberapa wahana yang ada di sana tentu saja Hime merasa senang. Sore harinya, mereka berdua menaiki sebuah permainan yang mirip kincir angin itu dan duduk berhadapan. Suasananya mnjadi hening, mereka berdua hanya terdiam menikmati pemndangan “ini seperti kencan yah” Haru tiba-tiba megeluarkan kata-kata yang tentu saja membuat Hime terkejut. Dia melihat ke arah pria yang selalu tampak bersemangat itu,  “Eh..??”
Melihat ekspresi Hime, Haru tertawa “ahahahah,, maaf, maaf Hime apakah kau terkejut. Maaf.!”
Hime terlihat kesal “Haru, ini bukan sesuatu yang bisa dibuat sebagai becandaan,” Hime merajuk bahkan hingga selesai menaiki komedi putar tersebut. Hime mengambil langkah cepat dan meninggalkan Haru. Haru yang  menggaruk kepalanya dan merasa menyesal. Hime melihat kebelakang berharap pria itu mengikutinya, tapi dia kecewa karena tampaknya tidak ada sosok yang dia kenal mengikutinya. Dengan kecewa, Hime melihat kembali ke depan dan terkejut melihat boneka kelinci yang lucu  berwarna putih dengan ukuran sedang ada di depan wajahnya. Boneka lucu itu mengeluarkan suara “Hime-chan, maaf. Jangan suka cepat marah nanti kamu cepat tua.”
Hime tertawa dan mengambil boneka tersebut hingga perlahan-lahan tampak wajah Haru yang tersenyum “ahahah, apa-apaan itu.!”. Senyum itu, senyum yang membuat Hime teringat kembali dengan anak kecil yang dulu menolongnya. Hime ingin menanyakan apakah Haru masih mengingat kejadian itu, tapi belum sempat Hime mengeluarkan sepatah kata, perut Haru berbunyi dan lagi-lagi Hime tersenyum melihat Haru yang selalu bisa membuatnya terkejut dengan tingkahnya
“ahahah, sepertinya aku lapar. Ayo cari makan” ajak Haru
“Ayo.”
Hime dan Haru berjalan berdampingan, terlihat dari belakang disinari sinar matahari sore, mereka  berdua tampak serasi.
“Terima kasih untuk hari ini. Aku senang sekali” Ungkap Hime
“bukan, harusnya aku yang mengucapkan terima kasih kan aku yang memaksamu untuk menemaniku. Terima kasih yah Hime.”
Ditemani sinar matahari sore, mereka berdua tertawa dan mengakhiri hiburan hari itu.
Berbeda dengan kedua temannya, hari itu saat jam di taman menunjukkan pukul tiga sore Yuki dan Yuuta merasa cemas karena tidak bisa saling menemukan dan dalam hati, mereka berdua sama-sama bergumam
“ Di mana kamu Yuuta?”,
“ Di mana kamu Yuki?”

BRIGHT- Kirai Demo Suki "Aishiteru" Lirik



Kirai, kirai, kirai, kirai
Kimi no koto nanka
Demo suki, suki, suki, suki dakara
Koko ga itai yo

Aishiteru so Aishiteru
Sore dake ga tsutaetakute
Demo kimi ga tooi yo
Konna ni soba ni iru noni naze?

Atarimae no koi ni
Akogareteru nante
If dareka ni kikaretemo
I can’t say.. Ienai

I hope that ano futari wakarechaiba ii
Danante doukashiteru baka mitai watashi
You are the only one for me
Kounaru hazu janakatta

Aishiteru so Aishiteru
Sore dake ga tsutaetakute
Demo kimi ga tooi yo
Konna ni soba ni iru noni naze?

Egao narebu yoko de
Uzukumaru secret of mine
Tsurarete warattetemo
So my Heart naiteta

It's friday futari tetsunai kuteru egao
Tsunakute Setsunakute mewo fuseta
You are the only one for me
Doushite watashi janai no?

Aishiteru sou Aishiteru
Sore dake ga tsutaetakute
Demo kimi ga tooi yo
Konna ni soba ni iru noni naze?

Aitakute Anakutte
Kotoba wa sunaoni narenakute
Kowashiteku na ii kara
Nani mo nani mo ienai

Ima doko de
nani omotte
Donna kyoku o kiiteru no
Tell me baby please Oshiete
Kagena demo ii kara

Aishiteru so Aishiteru
Sore dake ga tsutaetakute
Demo kimi ga tooi yo
Konna ni soba ni iru noni naze?

Kirai, kirai, kirai, kirai
Kimi no koto nanka
Demo suki, suki, suki dakara
tooku natekuyo

Sabtu, 06 Desember 2014

The Best Slow Music and Sad Song

The best sad song that I ever heard. Mungkin setelah dengar musik beberapa lagu J-POP di bawah ini bisa masuk list lagu tersedih kamu. Yah, walau saya tahu selera musik orang berbeda-beda tapi mungkin saja ada yang sependapat dengan saya. hehehe



1. Yoko Hikasa - Owaranai Uta

     Udah ada yang pernah dengar? lagu ini pernah jadi soundtrack anime movie HAL. Penyanyinya sendiri udah pernah jadi pengisi suara karakter anime loh. Anime K-ON, nah ayo coba tebak siapa??



2. Ken Hirai - Canvas

     Lagu ini merupakan ost Live Action anime Hachimitsu to Clover.  Kurang tahu sih filmnya kayak gimana. Tapi kalau animenya yah lumayanlah ada Romance+Comedynya jadi gak ngebosenin .




3. K- Only Human

     Hikzzz,, udah ada yang pernah nonton filmnya gak? wih sedih bangeet. Soundtracknya juga pas banget lagi. Dapat pengajaran baru, klu orang yg penyakitan aja gak mau terlihat lemah masa kita yang sehat bisanya cuma ngeluh. Walaupun udah lama, tapi Filmnya saya rekomendasikan deh.



4. Haruka Chisuga - Kibou no Hana

     Kalau ini ostnya anime Kotoura-san. Animenya menceritakan tentang seorang gadis yang dijauhin orang yang disayanginya karena dia punya kemampuan membaca pikiran.




5. Kioku no Kakera ost Hanbun no Tsuki

     Animenya Hanbun no Tsuki settingan tempatnya kebanyakan di Rumah Sakit. Maklum ceritanya kan tentang seorang lelaki yang suka sama cewek yang sakit. Episode animenya juga cuma sedikit, kalau gak salah ada 6 episode. Untung gak sad Ending. hehehe



6. Motohira Hata- Altair

     Dan hingga list terakhir pun, tetap dari ost Anime. Altair merupakan ost dari anime Sakamichi no Apollon, Animenya penuh dengan musik kayak Nodame Cantabille.


             Lagi-lagi saya ingin bilang, sebenarnya masih banyak yang saya tahu tapi kalau di tulis dalam satu post, wah...... gak kebayang panjangnya kayak gimana.. Jadi, Mungkin ada part berikutnya kali yah.. ahahaha.
             Sekian untuk post kali ini semoga yang lihat suka..

Minggu, 30 November 2014

BRIGHT- Kirai demo Suki Aishiteru





Kirai, kirai, kirai, kimi no koto nanka..
Demo suki, suki, suki dakara koko ga itai you.....

Kyaaa,,, lagunya kena banget di sini nih..
gak heran bisa masuk daftar playlist Jpop aku.
Padahal awal dapet lagunya cuma dari sekedar iseng-iseng cari lagu-lagu Jpop yang bagus aja..





gambar by: jpopasia.com

The Best song of "supercell"

     
Kalau dipostingan sebelumnya aku ngebahas tentang EGOIST, maka dipostingan kali ini aku mau ngebahas tentang lagu-lagunya supercell yang aku suka. Gak kayak EGOIST, jumlah lagu supercell yang aku suka lebih banyak jadi pusing deh milih beberapa. Pengen nulis semuanya tapi nanti kebanyakan.
        Supercell sendiri udah dua kali ganti vokalis. Vokalis pertama itu Yanagi Nagi, walaupun udah gak ngisi vokal untuk supercell tapi kalau diperhatiin genre musik Yanagi Nagi gak jauh beda sama lagu-lagunya supercell. Mungkin itu juga sebabnya banyak laguYanagi Nagi yang aku suka. Sekarang vokal untuk supercell diisi oleh Koeda yang suaranya cute banget.
Yosh tanpa panjang kali lebar lagi, ini dia lagu-lagu supercell yang buat aku jatuh cinta, mungkin bakalan aku pisahin mana yang vokalnya diisi oleh Yanagi Nagi dan Koeda:
Kalau yang vokalnya diisi oleh Yanagi Nagi lagu yang aku suka yang di bawah ini:
  1. Utakata Hanabi
  2. Kimi no Shiranai Monogatari
  3. Perfect Days
  4. Hero
  5. Sayonara Memories
  6. One Day
Kalau yang vokalnya diisi oleh Koeda lagu yang aku suka yang ini nih:
  1. Gin'iro Hikouzen
  2. The Bravery
  3. Bokura no Ashiato
  4. Kokuhaku
  5. My Dearest
Sekian deh buat postingan kali ini, ngarep banget pengen dengar next song dari supercell dan EGOIST...


Sabtu, 29 November 2014

Chiisa na Kiseki "Part 5: Pekan Olahraga, Langkah Pertama"


Aku tak tahu mengapa dan sejak kapan aku berubah
Menjadi seseorang yang buruk karena membenci seperti ini
Aku hanya merasa ada yang tidak adil
Dan, aku tidak menyukainya.

Pagi ini seisi kelas sepertinya sangat sibuk mempersiapkan pekan olahraga yang seminggu lagi akan diadakan oleh sekolah.  Yuuta dan Hime kelihatannya sangat sibuk menulis laporan, Yuki yang baru saja tiba di kelas menyapa mereka “Yuuta dan Hime jadi panitia yah, sepertiya kalian akan sibuk nih. Seminggu ini. Semangat yah.” Ucap Yuki
“selamat pagi” sapa Hime
“Yuuta tumben pagi ini tidak menjemput aku di rumah” 
“ah, maaf Yuki,  karena kegiatan ini aku harus berangkat pagi ke sekolah. Jam segitu kamu pasti masih tidur kan?” Yuuta mengejek Yuki
“Apa-apaan sih, Yuuta jahat. Padahal aku kan masih sakit”
“Sungguh, aku minta maaf,” Yuuta terlihat bersungguh-sungguh
“Hm… Oke, tapi hari minggu nanti kamu temenin aku untuk check-up yah?”
Yuuta mengacungkan jempolnya “SIpp,,,”
Beberapa saat kemudian, Haru datang menyapa mereka bertiga. Haru menepuk pundak Yuki “Yoooo, Pagi.” Haru  membungkukkan dirinya melihat lembaran kertas yang ada didepan Hime dan Yuuta “wah tugas kalian banyak sekali, pasti susah yah”. Haru tidak menyadari bahwa jarak wajahnya dengan Hime dekat. Namun, Hime yang menyadari hal itu hanya tertunduk malu dengan wajah memerah. Yuuta yang pada dasarnya selalu memperhatikan Hime melihat hal itu, tapi tidak berbuat apa-apa. Berbeda dengan Yuuta, Yuki lalu menarik tubuh Haru yang tadinya membungkuk setelah  melihat ekspresi wajah Yuuta “Yah, sudah-sudah. Haru kembali ketempat mu.”
“Apa-apan Yuki, padahal aku sedang melihat kerjaan mereka.”
Dengan sebelah tangan yang masih bertumpu pada tongkat Yuki menarik tas Haru dan mengajaknya pergi “sudah, sudah.. Ayo pergi”
Seminggu kemudian….
Kelas Yuki saat ini berada di pinggir lapangan yang besar untuk mendukung Hime yang menjadi perwakilan kelas mengikuti lomba lari. Teman-teman berdiri dan meneriakkan nama Hime agar dia bersemangat untuk menang. Yuuta menjadi wasit untuk lomba itu.
Sementara Yuki hanya duduk karena tidak bisa berdiri terlalu lama, lalu Yuki memulai pembicaraan dengan Haru yang duduk disampingnya. “ enaknya melihat orang yang bersemangat mengikuti lomba dan mendengar dukungan teman-teman. Padahal tahun lalu aku yang menjadi perwakilan kelas. Hufftthh..” Yuki menghela nafas panjang.
Belum sempat Haru membalas perkataan Yuki, tiba-tiba Hime pingsan saat mencapai garis finish untuk posisi tiga. Dengan cepat, Yuuta menghampiri Hime yang dan melihat keadaannya. Yuuta menggendong Hime dan segera membawanya ke posko yang memang disediakn untuk hal darurat seperti ini.
Yuki tidak melepaskan pandangannya dari Yuuta yang sedang menolong Hime.  Dia hanya bisa melihat Yuuta menggendong Hime tapi tak bisa melakukan apapun. Dia tidak menyadari bahwa Haru sedang memperhatikannya.
“Yuki-chan” Haru  memegang pundak Yuki yang terlihat sedang melamun.
 Tiba-tiba Yuki tersadar dari lamunanya “Ah, Hime- chan. Aku harus menyusulnya” Yuki segera bangkit dari tempatnya dengan susah payah , untung saja ada Haru yang membantunya, bahkan saat dia hampir terjatuh, Haru menahan badan Yuki. Yuki melihat wajah haru “Terima Kasih” lalu tersenyum.
“kau kenapa sih, dari tadi sepertinya hanya melamun.
Sementara memperbaiki posisi tubuhnya, “Aku tidak apa-apa”
“Apa kau cemburu melihat Yuuta dan Hime?
Mendengar pertanyaan itu, Yuki terdiam sejenak. Lalu berbicra “Haru ngomong apa sih, aku tidak menengerti apa maksudmu. Ayo segera kita menyusul mereka berdua”
Haru mencoba bercanda menghibur “Apkah kau juga ingin aku gendong seperti itu?
“eh, apakah kau pikir aku anak kecil, memalukan, tahu.” Yuki tertawa bersama Haru.
Hime mulai tersadar dan samar-samar terlihat wajah Yuuta dan suaranya yang memanggil-manggil nama gadis berambut panjang itu. “Yuuta..”
“Hime kamu baik-baik saja?
“Iya” Hime sadar dan kemudian merasa kakinya sakit “Kakiku, sakit”
Yuuta memeriksa kaki Hime dan melihat kaki Hime yang bengkak “ sepertinya kakimu terkilir, kamu istirahat saja dulu”
Hime menganggukkan kepalanya.
Yuki dan Haru tiba di tempat Hime dan menghampirinya, “Hime kamu baik-baik saja?” Tanya Yuki
“Kakinya terkilir” jawab Yuuta.
“Mengapa tidak membawanya ke Uks saja, aku akan membantumu, Yuuta-kun” Ucap Haru
Akhirnya mereka berdua membawa Hime ke UKS.
“Aku akan menunggu di sini saja” Ucap Yuki
Yuuta menoleh ke arah Yuki “Baiklah, aku akan segera menemuimu.“
“iya” jawab Yuki singkat.
Sesampainya di ruang UKS, “kalian berdua tidak usah mencemaskan aku, lagipula ada perawat di sini. Kasihan menemani Yuki saja.”
“Baiklah, nanti kami akan menemuimu lagi” Ucap Yuuta.
Haru berteriak saat hendak meninggalkn ruang UKS “Semoga cepat sembuh Hime-chan” lalu mengedipkan matanya dan terseyum
Sekali lagi, Yuuta  hanya bisa melihat saja kejadian itu terjadi didepan matanya.
Sore harinya, “Haru, ayo antar aku pulang, (Yuki lalu melihat ke arah Yuuta yang sedang membereskan mejanya) Yuuta, hari ini kamu antar Hime pulang kerumahnya dengan selamat oke?”
“Kamu tidak apa-apa pulang sendirian?”
“siapa bilang aku pulang sendiri, Haru akan mengantarku pulang.” Yuki memukul pundak Haru yang duduk didepannya untuk memastikan dan meyakinkan Yuuta “kan?”
Haru hanya menunjukkan jempolnya tanda setuju.
“Baiklah, Haru tolong jaga Yuki. Kalau begitu, aku duluan yah..” Yuuta meninggalkan kelas.
Haru membalikkan badannya “Yuki-chan, ayo kita  pulang”
Mata Yuki tertuju pada gerbang sekolah yang memang bisa dilihat dari jendela tempat duduknya “Tunggu sebentar lagi, “
Haru mengikuti saja perkataan Yuki tanpa bertanya apa-apa lagi karena sepertinya dia mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Yuki.
Dari jendela terlihat Yuuta sedang membantu Hime berjalan, pandangan Yuki tak lepas dari mereka berdua yang terlihat berjalan perhlahan-lahan dan akhirnya tidak terlihat lagi.
Haru juga melihat adegan itu, dan kemudian memalingkan pandangannya ke Yuki.
“mereka sudah pulang, ayo kita juga pulang”
“AH, buaknnya aku menunggu untuk melihat mereka berdua.” Yuki berdiri dari bangkunya
“Iya, iya aku mengerti”
Haru dan Yuki berjalan smpai di gerbang sekolah “Haru tidak usah mengantarku. Aku bisa pulang sendiri.”
“Tapi,”
“please” Yuki memaksa
“Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk hati-hati”
“siipppp..”
Yuki dan Haru berpisah saat itu. Setidaknya begitulah pikiran Yuki. Tapi, Yuki tidak mengetahui jika Haru mengikutinya. Dalam perjalanan menuju rumahnya, Yuki tidak konsentrasi pada jalan yang dilaluinya lalu dia tersandung batu dan terjatuh, Yuki melihat lututnya lecet, dan dia pun menangis namun dia menangis bukan karena luka di kakinya, tapi karena dia teringat kejadian di sekolah saat Yuuta dan Hime pulang bersama padahal dia yang biasanya pulang bersama Yuuta, tapi kali ini, mengapa bukan dia. 
Seorang laki-laki tiba- tiba memanggilnya dari belakang “Yuki-chan”
Yuki berharap Yuuta yang memanggilnya dan dia pun sgera berbalik. Dilihatnya pria yang memegang pundaknya dari belakang seketika itu pula raut wajah Yuki terlihat kecewa “Ah, Haru. Kenapa kamu bisa ada di sini?”
Haru tersenyum “hihi, memangnya kamu pikir siapa, mengapa kamu tampak kecewa?”
Yuki segera menghapus air mata di wajahnya
“Sebegitu sakitnya kah, luka ini?”  Haru membantu membersihkan luka Yuki lalu membalutnya dengan sapu tangannya.
“Nanti sapu tangan mu kotor”
“Hanya sapu tangan,” dengan lembut dan perlahan-lahan Haru membalut luka Yuki
Yuki hanya melihat Haru membalut lukanya
“ngomong-ngomong, ternyata kamu cantik juga saat nangis”
Yuki terkejut “eh, apa-apaan sih”  dan memukul pundak Haru
“hahahah” tawa Haru kembali menghibur hati Yuki yang sedih
“Mengapa, mengapa harus Haru yang selalu ada saat aku merasa terpuruk dan sedih?” bisik Yuki dalam hati.
”nah selesai” Haru selesai membalut luka Yuki dan berdiri. Haru membantu Yuki untuk berdiri
Yuki sejenak melihat tangan Haru yang siap menolongnya untuk berdiri. Tangan yang selalu saja ada untuk menolongnya “Terima kasih J
“Aku akan mengantarmu pulang” Akhirnya Haru mengantar Yuki pulang
“Tapi kenapa kamu bisa ada di sini, rumah kita kan beda arah?” Yuki terlihat kebingungan
Haru jadi salah tingkah dan melirik kesekelilingnya “ah,, ettooo..ehh,,,,” akhirnya dia mendapat alasan ”oh, aku tadi ingin menjenguk teman yang sakit dan kebetulan arahnya ke sini”
“siapa, mungkin aku mengenalnya”
Haru bingung harus menjawab apa, lalu dia mengalihkan pembicaraannya “Eh, gimana kaki kamu?”
Yuki melihat kakinya, “Oh, mungkin hari minggu  nanti aku sudah bisa berjalan tanpa penyangga kaki ini”
“hmm…. Kalau begitu boleh aku menemanimu?”
“Eh, tidak usah, aku akan pergi bersama Yuuta. Dia sudah berjanjiakan menemaniku”
“Ooohhh..” Jawab Haru singkat.
Akhirnya Yuki sampai dirumahnya dan Haru pun meninggalkan Yuki dengan perasaan lega.
Yuuta sampai di rumah Hime. “Terima kasih sudah mengantarku pulang”
“Iya, kalau begitu aku pulang dulu yah,”
“kamu tidak mau singgah dulu,”
“Eh, tidak, tidak.. lain kali sja sepertinya ini terlalu cepat untuk bertamu ke rumahmu”
“kalau begitu baiklah. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih untuk hari ini”
“Iya, semoga kamu cepat sembuh”
Hime memperlihatkan senyum manisnya dan tiba-tiba angin menerbangkan rambut Hime yang panjang secara lembut. Yuuta terpukau melihat kejadian yang baru dia lihat pertama kali itu “Hime-chan, apakah kamu punya waktu hari minggu ini?” Yuuta tiba-tiba mengajak Hime untuk keluar seolah-olah dia tidak ingin melewatkan moment yang langka itu.
Tentu saja Hime terkejut dengan ajakan yang tiba-tiba itu, tapi, hime menerima ajakan Yuuta kerena merasa berhutnag budi atas apa yang terjadi hari ini, dan sore itu Yuuta pulang dari rumah Hime dengan wajah yang ceria.
Malam harinya, jam weker di meja samping tempat tidur yuki menunjukkan pukul Sembilan, tiba-tiba ada sms masuk di HP yuki saat dia sedangterbaring di tempat tidurnya membaca novel.
Yuuta: Berikan selamat untukku
Dengan mimik wajah bertanya-tanya Yuki menjawab SMS itu
          Me: selamat untuk apa?
Yuuta: Aku berhasil mengajak Hime keluar
          Me: wah, bagus dong, sepertinya ada kemajuan
Yuuta: aku hanya merasa kalau aku harus berusaha lebih keras   
          Me: Kapan?
Yuuta: Minggu ini. 
Yuki melihat kalender yang trgntung di dinding kamarnnya menunjukkan hari Rabu..
          Me: semoga kamu berhasil dengan usahamu
Yuuta: terima kasih. Jaa, malam, selamat tidur
          Me: ^_^
Yuki membaringkan dirinya kembali. “Enaknya bisa melakukan langkah pertama untuk mendekati orang yang disukai”. Yuki meghela nafas panjang, Hime beruntung, bisa disukai oleh seseorang seperti Yuuta. Yuki berteriak dalam hatinya, arrrgghhhhh!! Mengapa dia tidak merasa senang, padahal Yuuta memulai mengejar hal yang mungkin bisa membuatnya bahagia. Dia berpikir bahwa mungkin saja dia menjadi jahat karena tidak senang dengan  kebahagiaan orang lain. Sejak kapan dia berubah seperti ini? Sebenarnya dia juga tidak menyukai dirinya yang seperti itu, tidak bisa menerima keadaan.

Sabtu, 22 November 2014

Chiisa na Kiseki “Part 4: Ingatan masa Lalu”

Aku percaya keajaiban,
Bahkan seberapapun mustahilnya hal itu, aku ingin berusaha untuk tetap mempercayainya.
Bukankah pertemuan kita ini juga termasuk keajaiban kecil.
Apakah kau tidak mengingatnya, pertemuan pertama kita?.






Setelah sekian lama, akhirnya yuki memutuskan untuk kembali bersekolah walaupun masih harus menggunakan alat yang membantunya berjalan. Awalnya Yuki merasa malu tapi Haru mengatakan untuk tidak memperdulikan perkataan orng lain yang bisanya hanya menjelek-jelekkan, bukan mereka yang merasakan apa yang kita alami, jadi tidak perlu mendengarkan orang yang tidak mengerti dan tidak tahu apa-apa.  Yuki bersyukur Hime dan Yuuta selalu ada disampingnya dan teman-teman kelasnya pun menerima keadaannya.
Di kelas, itu dia Haru Hikari sii murid baru yang setelah memperkenalkan dirinya langsung menyapa Yuki tanpa memperdulikan situasi sekitarnya. “Hai, Yuki chan,” lalu tersenyum.
Serentak teman-teman melihat Yuki dan heran mengapa dia bisa mengenalnya, Yuki lalu salah tingkah dengan sapaan yang tidak tahu kondisi itu. Yah, begitulah Haru tapi yang lebih mengejutkan ternyata Haru langsung disukai beberapa gadis di kelas.
”Yah, harusnya aku tidak perlu terkejut karena Haru mank lumayan keren dengan rambut panjangnya yang ikal dan sedikit acak dan snyum manis yang penuh semangatnya, berbeda dengan Yuuta yang pendiam dan tidak terlalu pandai dalam bergaul, walaupun begitu dia sebenarnya baik, dan punya aura yang menenangkan,” bisikku dalam hati. Yuki tersentak, dan heran mengapa tiba-tiba dia membandingkan mereka berdua. Namun ternyata ada satu hal yang luput dari penglihatannya saat itu.
Jam istirahat, seperti biasa Yuki, Yuuta dan Hime makan siang bersama lalu Haru tiba- tiba saja datang dan bergabung dengan mereka bertiga.. “hai,, hai,, hai..aku boleh bergabung kan.” Padahal kami belum menjawabnya tapi dia sudah duduk duluan.
Yuki memperkenalkan Haru kepada Hime dan Yuuta. Saat aku perkenalkan Hime dan Haru, sepertinya Hime malu-malu untuk menjabat tangan Haru tapi kupikir itu hal yang biasa untuk orang yang baru saja bertemu. Lagi-lagi Haru selalu bisa membuat suasana jadi ramai dengan ceritanya yang menarik dan lucu. Akhir-akhir ini mereka yang biasanya berkumpul bertiga sekarang bertambah lagi seseorang pembuat keributan, siapa lagi kalau bukan Haru, setiap hari mereka dibuat tertawa olehnya.
Suatu hari, Hime ingin membeli buku di Toko buku, namun Yuki tidak bisa dan yuuta harus mengantar Yuki pulang.
“Aku, tidak ada kegiatan apa-apa kok, kalau boleh aku saja yang menemanimu,” ucap Haru.
“tidak merepotkan?,” Tanya Hime. Haru dengan cepat menjawab “tentu saja, aku akan senang bisa membantu Hime yang cantik,” Haru tersenyum. Hime terlihat malu-malu dengan pujian Haru. “Terima Kasih,” Jawabnya.
Dalam perjalanan pulang,  tiba-tiba saja Yuuta membahas sesuatu yang telah lama terlupakan, “Yuki, menurutmu apakah aku bisa bersama dengan Hime?”.
Yuki terkejut, “kenapa kamu brtanya seperti itu, siapa yang tidak bisa menyukai Yuuta, Yuuta kan orangnya baik.” Jawabku. “Mungkin Hime Cuma tidak menyadari kalau Yuuta suka dengannya, Yuuta sih yang tidak pandai mendekati Hime. Maaf, saat ini aku sulit untuk membantu Yuuta. Padahal aku sudah janji.” Tambahnya.
“Tidak apa- apa yuki ini bukan slahmu. Aku mengerti,”
“kalau memang suka sama Hime, Yuuta usaha dong. Yuuta dewasa, Hime juga cantik dan baik, kalian  pasti cocok. Yuki dukung kok. Semangat Yuuta”.
“terima kasih, lalu bagaimana keadaan kakimu?
“hm,, mungkin tinggal sedikit lagi udah sembuh kok.”
Pembicaraan mereka berakhir saat itu. Diperjalanan Yuki merenung mengingat pertanyaan Yuuta yang ternyata masih cukup bisa membuat sakit hati walaupun diputuskannya untuk ingin melupakan perasaan itu. Dipegang dadanya yang sakit dan menenangkannya, “semua akan baik-baik saja!” bisiknya dalam hati.
Di toko buku, Hime sementara mencari buku yang dia inginkan, “apakah kamu sudah mendapatkan bukunya?,” Tanya Haru.
“Belum, aku sementara mencari yang cocok dengan referensi yang kubutuhkn,”jawab Hime.
“oohh,” jawab Haru singkat.
Sementara Hime membaca dan mencari buku yang diinginkannya, Haru tanpa sadar terpana saat melihat wajah serius Hime. Hime yang merasa diperhatikan kemudian melirik Haru dan hal itu membuat Haru salah tingkah. Dia mengambil buku dan berpura-pura membacanya. “wah, bukunya bagus yah,” seru Haru.
Hime bingung melihat Haru dan menegurnya, “Haru, maaf, tapi sepertinya buku yang kamu baca terbalik,” Hime kemudian tertawa kecil.
Haru kembali salah tingkah dan menertawakan dirinya. Melihat Haru tertawa, muka Hime menjadi merah karena dia baru saja melihat ekspresi malu-malu dari pria itu. Haru berhenti tertawa dan melihat Hime.
“Hime, pipimu merah, kamu sakit?,” Haru memegang kening Hime dan hal itu membuat wajah Hime memerah karena malu, dan dia cepat-cepat melepaskan tangan Haru dari keningnya. “aku baik-baik saja,”
“Ah, maaf.!” Mengingat sikap refleksnya tadi Haru menjadi malu dan begitupula dengan Hime,
 “tidak ap-apa,” jawab Hime dan kemudian kembali mencari buku yang diinginkannya.
Hime merebahkan dirinya di tempat tidur. “Haru Hikari” nama itu disebutkannya dia mengingat kejadian saat sosok itu memperkenalkan dirinya sebagai murid baru dan kehadiaran Haru sempat membuatnya terkejut.
 Hime mulai mengingat –ingat kembali masa waktu dia berumur 10thn. Saat itu Hime baru sja pindah ke daerah tempat tinggalnya. Saat itu, dia menangis sendirian di jalan karena tersesat saat ia hendak menyeberangi persimpangan jalan sebuah motor tiba-tiba muncul, seorang anak laki-laki dengan pakaian yang agak kotor menarik tangannya  dari belakang lalu mereka jatuh bersama.
Hime melihat siku anak itu terluka karena menahan badannya saat terjatuh “tanganmu?”
Anak itu melihat sikunya “ah ini, tidak apa-apa. Aku kan laki-laki jadi aku kuat” anak itu tersenyum, walaupun Hime seperti bisa merasakan bahwa luka anak itu sebenarnya perih.
“Lagipula mengapa kamu menangis di jalan, berbahaya tahu.” anak itu bertanya
“Aku tersesat, aku mau pulang” Hime kembali menangis
“Ah, sudah diam jangan menangis, kamu tinggal di mana, aku akan mengantarmu” anak itu menarik tangan Hime dan memegannya erat.
Hime mengikuti saja ke mana anak itu menariknya, dia melihat tangannya yg dipegang oleh dan sesekali pula melihat wajah anak yang memegang tangannya itu.
Akhirnya, Hime kecil sampai tepat di depan rumahnya. Anak yang menolongnya menyebutkan  namanya “Haru Hikari” lalu tersenyum  lebar. Cara haru menyebutkan namanya masih sama seperti dulu. Lalu bagaimana mungkin Hime bisa melupakan anak yang kini telah menjadi seorang lelaki tersebut.

Apakah ini sebuah keajaiban dia bisa bertemu lagi dengannya? Bahkan seberapapun mustahilnya hal itu, takdirkah?. “Bisakah aku menganggapnya seperti itu, karena aku ingin mempercayainya. Mungkin pertemuan saat ini dan saat itu juga termasuk keajaiban kecil.” Hime tersenyum. Disebutkannya sekali lagi nama itu lalu dia tertidur. Walau Haru sepertinya tidak mengenali Hime saat pertama kali bertemu.
New Post